Jumlah Pengunjung

901808
Today
Yesterday
This Month
524
1864
20522


Di tengah realita makin banyaknya orangtua yang kedua-duanya bekerja, seringkali timbul pertanyaan tentang siapa yang bertanggung-jawab dalam masalah disiplin anak. Kesibukan orangtua baik dalam pekerjaan maupun dalam pelbagai kegiatan social seringkali mempunyai dampak langsung terhadap tanggung-jawab disiplin pada anak-anak mereka. Konsentrasi yang terbagi-bagi antara pekerjaan, pelayanan, kegiatan sosial dan kehidupan rumah-tangga telah membuat banyak orang-tua merasa tidak mempunyai waktu untuk memikirkan tentang disiplin.
 

Sejalan dengan sistim kehidupan tersebut, orangtua menemukan bahwa anak-anak mereka mulai membentuk pola belajar yang kurang bertanggung-jawab, malas, suka membantah, dan tidak bisa diatur. Mulailah mereka sadar, prihatin, mencoba mencari jalan keluar, tapi tanpa hasil yang memuaskan, dan bahkan banyak diantara mereka putus asa. Bagaimana dan kapan disiplin diterapkan bagi anak-anak mereka ?
 

Tantangan ini makin dirasakan krusial pada saat orangtua menyadari akan tuntutan globalisasi di akhir abad XX ini dimana keberhasilan hidup sangat ditentukan oleh kemampuan seorang dalam adaptasi social dan disiplin diri. Anak-anak harus dipersiapkan untuk nantinya bisa mandiri dalam bekerja, berinovasi, kreatif, dan bertanggung-jawab penuh dalam kehidupannya.
 

Kesadaran akan krisis ini semakin dirasakan pada saat orangtua memahami apa yang terjadi dengan anak-anak mereka di sekolah. Lebih dari separuh guru sekolah yang frustrasi dan menjadi apatis karena apa yang di-ideal-kan tak pernah menjadi kenyataan. Mareka hanya mampu memberikan bahan-bahan pelajaran, tetapi dalam masalah pembentukan karakter, mereka angkat tangan. Herannya, keprihatinan seperti ini sudah menjadi pergumulan orangtua ribuan tahun yang lampau. Pada abad ke-5 SM Socrates pernah mengatakan :


“Our youth now luxury, they have bad manners contempt for authority, show disrespect for their elders, and love to chatter in place of exercise … they contrasdict their parents, … and terrorize their teacher.”

“Sekarang muda-mudi hanya mencintai kemewahan, mereka mempunyai kebiasaan buruk, melawan otoritas, tidak menghargai orang yang lebih tua… dan kurang bertanggung-jawab. Mereka tidak mempunyai sopan-santun,… melawan pendapat orangtua dan guru.” (Amundson, K.1991,p.15)


Masalah disiplin adalah masalah yang sudah setua manusia. Sejarag gereja menyaksikan betapa manusia selalu saling melempar tanggung-jawab antara orangtua, gereja, dan sekolah. Siapa yang sebetulnya harus memikul tanggung-jawab dalam disiplin anak, jika anak-anak anda menghabiskan sebagian besar dari waktunya di sekolah ? Apakah disiplin anak merupakan bagian utama dari yanggung-jawab guru ? Atau disiplin harus ditanamkan oleh kedua orangtua?

Ada dua hal yang perlu dipikirkan di sini :

Disiplin harus ditanamkan oleh kedua orangtua
Walaupun banyak variasi dari gagasan orangtua dalam pendidikan, tetapi nilai utama yang didambakan oleh orangtua pada umumnya sama. Mereka ingin anak-anaknya mempunyai disiplin yang baik, karena itu setiap kali ada kesempatan berbicara di depan anak, mau tidak mau nadanya selalu memberikan arah, pandangan pertimbangan, dan nasehat. Agar pertimbangan dan nasehat orangtua berhasil, apakah yang diperlukan ?

Perdebatan antara cara menangani disiplin sejak lama sudah ada antara mereka yang permissive (member kebebasan pada anak, karena mereka menganggap setiap anak mempunyai tendensi alamiah untuk mengerti kemampuan dirinya sendiri), dan authoritarian (yang menekankan ketaatan yang optimal dari anak). Braumrind (1978) mengusulkan authoritative style seperti yang dikutip oleh Ambron (1978) :

“…exert firm control when young child disobeys, but does not hem the child with restrictions, recognizing the child’s individual interests and special ways.”

“Orangtua mempunyai control yang jelas waktu anak membangkang, tetapi keunikan setiap anak harus diperhatikan, dan tidak mengurung anak dengan peraturan-peraturan.”

Di balik apa yang dikatakan di atas, Braumrind sebenarnya menyadari perlunya system yang menyeimbangkan dua prinsip disiplin tadi. Hal ini sudah harus terbentuk di rumah sejak anak-anak masih kecil, karena disiplin yang ditanamkan sejak dini tidak membuat anak merasa asing pada waktu ia mendapatkan disiplin di sekolah. Pendidikan baik di rumah maupun di sekolah membutuhkan perhatian, usaha, dan tanggung-jawab penuh dari orangtua. Seperti pola ketidak-taatan anak merupakan suatu proses, demikian pila pola disiplin merupakan suatu proses yang haus berjalan sejajar baik dari orangtua maupun dari pihak sekolah. Dengan kata lain, untuk dapat mendisiplin anak dengan baik, antara lain :

a.Orangtua harus terlebih dahulu konsisten dengan kriteria disiplin yang akan mereka tetapkan. Anak-anak akan belajar bila ketetapan-ketetapan disiplin dilaksanakan dengan konsisten dan bijaksana.Antara ayah dan ibu harus ada kesepakatan. Jangan sampai ada yang dilarang ayah, diam-diam diberikan oleh ibu. Disiplin tidak cukup hanya dengan peraturan atau larangan saja, naming juga dibutuhkan keteladanan dan tuntutan moral dari keluarga sendiri.

b.Standar yang orangtua pakai untuk mendisiplin anak harus sederhana dan jelas. Misal, suatu hari anda tidak memberikan reaksi ketika anda sedang sibuk menyelesaikan tugas dan membiarkan si anak nonton TV sambil makan malam. Minggu berikutnya anda uring-uringan dan menghukum anak karena anda pikir tidak seharusnya ia makan malam sambil nonton TV. Hal ini tentu akan membuat anak berpikir bahwa ketentuan hukuman dan disiplin hanya merugikan anak, mereka tidak belajar dari disiplin yang anda terapkan.

c.Disiplin pada saat yang tepat

Banyak orangtua mendisiplin anak setelah frustrasi karena kesalahan yang bertumpuk-tumpuk dari anak. Sehingga anak seringkali tidak mengerti dengan pasti ia didisiplin bahkan dihukum karena apa. Seharusnya anak didisiplin pada saat ia tidak bertanggung-jawab, atau melanggar peraturan yang sudah ditetapkan.

 

Banyak orangtua yang takut mendisiplin karena kuatir anak akan memberontak dan tidak mengasihi orangtua lagi. Hal ini ternyata tidak benar! Oleh karena setiap anak membutuhkan disiplin. Mereka membutuhkan pola kehidupan dan keteraturan yang baik. Sehingga anak dapat bertanggung-jawab untuk mengikuti aturan anda dan mendapatkan disiplin sebagai peringatan akan pelanggaran dan apa yang mereka sudah lakukan.

 

Disiplin juga hrus ditanamkan di sekolah
Ada banyak pendapat yang menekankan bahwa pendidikan akademis harus lebih ditekankan di sekolah dan disiplin sebaiknya diatur di rumah. Di pihak lain timbul pertanyaan, apakah sekolah hanya mendidik anak dari segi kognitif sekitar materi pelajaran saja ? Padahal sekarang ini banyak sekolah yang mulai memberlakukan jam-jam pelajaran yang lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya, sehingga otomatis anak lebih banyak waktu di sekolah daripada di rumah. Tidak heran jikalau Greer,P. dan Ryan,K. (1989) menulis dengan jelas bahwa ternyata tugas guru lebih daripada hanya mengajarkan materi (content) saja :

“We are living in a time of unparralleled levels of crime, suicide, and antisocial behavior on the part of our young people. The absence of values and self-control permeates the life of the school and is evidenced by poor discipline … Much of the energy of teacher and administrators… goes to coping with poor behavior that flows directly from a lack of values and weak character.”

“Kita hidup pada masa dimana kejahatan, bunuh-diri, dan perilaku anrisosial dari kaum muda tidak dapat lagi disejajarkan dengan angkatan-angkatan sebelumnya. Kevakuman standar nilai dan kontrol diri mempengaruhi kehidupan sekolah yang dapat dibuktikan dari lemahnya disiplin siswa… Banyak tenaga dari guru-guru dan lembaga administratif sekolah… yang harus dicurahkan untuk mengatasi sikap siswa yang tidak terpuji, yang sebenarnya muncul dari lemahnya standar nilai dan karakter.”

 

Jadi, disiplin juga harus ditegakkan oleh pihak sekolah, supaya anak tidak hanya pandai tetapi juga mempunyai karakter yang baik. Seperti yang Dobson (1995) katakan :

“Our school must have enough structure and discipline to require certain behavior from student, because one of the purposes of education is to prepare our children for life.”

“Sekolah harus mempunyai struktur dan disiplin yang cukup untuk menghasilkan siswa-siswa yang berkarakter, karena tujuan pendidikan adalah untuk mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan yang sesungguhnya di masa mendatang.”

Oleh karena ketidak-disiplinan terjadi melalui proses erosi yang berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, maka penanggulangannya pin harus dilakukan sedikit demi sedikit. Ketaatan anak dan peraturan sekolah merupakan kunci untuk memasuki kehidupan social anak di kemudian hari. Karena itu,

a.Jangan membela anak pada saat ia mendapatkan disiplin dari sekolah. Sedapat mungkin ada mendukung disiplin yang diterapkan sekolah untuk kebaikan anak.

b.Bila anak bermasalah, carilah waktu untuk bertemu dengan guru yang bersangkutan dan ciptakan kerjasama yang baik.

Daftar Konselor

Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
Esther Susabda, Ph.D.
Asriningrum Utami, M.Th.
Lanny Pranata, M.Th.
Siska Tampenawas, M.Th.
Lucia Indrakusuma, M.A.
Esther Gunawan, M.Th.
Esther Kurniawati, M.Th.
Vivi Handoyo, M.Th.
Debby M. Soeseno, M.Th.
Suherni Santoso, M.A.
Yohanna P. Siahaan, M.Th.
Yonathan A. Goei, Ph.D.
Sandra Mayawati, M.Th.
Suzanna Sibuea, M.Th.
Dan lain-lain.

Konseling Online

Jadwal Konseling Online
Senin-Jumat
(Kecuali Hari Libur)
10.30-12.00 WIB dan 20.00-22.00 WIB

Tentang Kami

Kontak Info

STT Reformed Indonesia (STTRI, dulu STTRII)
Jl. Kemang Utara IX/10, Warung Buncit
Jakarta Selatan, 12760
(Peta lokasi bisa dilihat/diunduh di sini.)

Telp            : (021) 7982819, 7990357
Fax            : (021) 7987437
Email          : reformed@idola.net.id
Website      : www.reformedindonesia.ac.id
    www.konselingkristen.org
Bank          : CIMB Niaga (Cabang Kemang)
No. Acc.     : 800073329000 (Rp.)
                      253.02.00081.001 (USD)
A/n              : Yayasan Lembaga Reformed Indonesia