Jumlah Pengunjung

966643
Today
Yesterday
This Month
677
720
18360


Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph.D.
Saya merasa beruntung sekali menjadi seorang pengajar. Bagaimana tidak, ternyata banyak sekali hal baru yang saya ketahui setelah menjadi pengajar. Salah satunya adalah pokok pikiran di bawah ini yang saya pelajari setelah saya mengajar mata kuliah Psikologi Abnormal. Pelajaran yang saya terima ini berkaitan dengan hubungan orang tua-anak pada waktu anak berpisah dari orang tuanya.

Dalam bukunya, Abnormal Psychology and Modern Life, 5th Edition, J. C. Coleman mengutip riset yang dilaporkan oleh Bowlby pada 1960 dan 1973. Bowlby mengamati reaksi anak usia 2 hingga 5 tahun, tatkala mereka berpisah dari orangtua mereka untuk masa yang lama sewaktu anak-anak ini dirawat di rumah sakit. Ternyata ada tiga reaksi anak yang ditunjukkannya secara bertahap. Pada awalnya, anak mulai memprotes, yakni menunjukkan ketidaksetujuannya dan ketidaksediaannya dipisahkan dari orangtua. Pada tahap ini anak biasanya lebih sering menangis dan menjerit. Reaksi berikutnya ialah putus asa, di mana anak menampakkan wajah yang murung dan pandangan yang kosong. Anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak aktivitas yang dilakukannya, dan mulai menarik diri dari lingkungan di sekitarnya. Tahap ketiga dan terakhir adalah menjauh, di mana setelah anak pulang ke rumah, ia tetap tampak tidak peduli dengan ibunya dan ada kalanya memperlihatkan sikap marah atau bermusuhan dengan ibunya.

Saya kira semua orangtua akan terenyuh apabila harus menyerahkan buah hatinya untuk dirawat di rumah sakit. Semua anak kami pernah "dirumahsakitkan" dan saya masih ingat betapa sedihnya hati kami pada saat-saat itu. Menurut saya, pengamatan Bowlby ini sangatlah berfaedah karena memberikan informasi kepada kita tentang apa yang kira-kira dialami oleh anak tatkala berpisah dari kita, orangtuanya. Ketiga tahap reaksi anak sesungguhnya mencerminkan satu objek reaksi yang sama yakni reaksi terhadap menghilangnya orang yang dikasihi dan mengasihinya. Masih dalam buku yang sama, J.C.Coleman juga melaporkan satu eksperimen tentang kera yang dibesarkan sendirian dalam kandang tanpa induk ataupun kera lainnya. Ternyata kera ini memperlihatkan perilaku yang menyimpang.Ia berdiam diri dan mendekam di sudut kandang sendirian, menampakkan wajah yang lesu dan penuh dengan ketakutan.

Sekarang saya ingin masuk ke inti pembahasan. Baik pengamatan Bowlby maupun eksperimen tentang kera menunjukkan satu hal yang jelas, yakni anak memerlukan interaksi yang hangat dengan orang tuanya. Kekurangan interaksi yang hangat dengan orangtua berpotensi menimbulkan perilaku yang menyimpang pada diri anak. Sewaktu saya bekerja sebagai Children's Social Worker, ada satu hal yang mengganggu sanubari saya. Kami semua berusaha melindungi anak-anak yang dianiaya, disalah asuh, dilalaikan, dicabuli, dieksploitasi, dan sebagainya, dengan harapan, perlindungan dan suasana rumah yang berbeda (sewaktu mereka dirawat di rumah asuh) dapat menjadikan mereka manusia dewasa yang sehat dan matang. Namun, cukup banyak anak-anak yang bertumbuh besar menjadi pemuda-pemudi yang bermasalah.

Saya mengamati, anak yang harus berpindah-pindah rumah asuh cenderung menjadi anak yang bermasalah. Sedangkan anak yang diasuh di dalam rumah dan keluarga yang sama cenderung bertumbuh besar menjadi pemuda pemudi yang mantap. Saya kira alasannya cukup jelas. Anak membutuhkan ikatan batiniah yang permanen dengan orangtua atau pengasuhnya. Ikatan batiniah yang permanen adalah wadah terciptanya dan tumbuhnya interaksi hangat yang sangat dibutuhkan oleh anak. Tanpa ikatan batiniah, anak dapat bertumbuh besar tanpa arah dan kehilangan pegangan.

Interaksi yang mesra dan hangat dengan orangtua merangsang anak mendayagunakan semua potensi dalam dirinya. Tuhan melengkapi anak dengan kemampuan-kemampuan yang berperan besar dalam pembangunan kepribadian yang mantap. Pemberian Tuhan ini (hanya) dapat bertumbuh secara maksimal apabila anak berada di lingkungan yang aman, hangat, dan merangsang pendayagunaan kemampuan-kemampuan tersebut. Tanpa rasa aman, kehangatan, dan rangsangan yang memadai, kemampuan anak cenderung tidak tergali secara optimal. Akibatnya adalah ia akan kekurangan bahan untuk membangun penilaian dirinya yang positif.

Di samping itu, interaksi yang mesra dan hangat antara anak dengan orangtua menyediakan model atau contoh hidup yang sangat ia butuhkan dalam masa pertumbuhannya itu. Anak berpotensi dapat kehilangan pegangan dalam masa pertumbuhannya apabila ia jarang atau sedikit melihat dan berinteraksi dengan orangtuanya - yakni model atau contoh hidup itu. Pada dasarnya kita dapat mengibaratkan hidup ini dengan proses belajar yang tidak ada habisnya. Pada usia balita, kita belajar berjalan dengan cara melihat bagaimana orang di sekitar kita berjalan. Kita belajar berbicara dengan cara meniru orang di sekeliling kita berbicara. Tidak mengherankan apabila ada anak yang gaya jalan dan bicaranya persis dengan ayah atau ibunya. Bayangkan jika kita disuruh berbicara dan berjalan tanpa ada contohnya. Kita hanya akan bisa berkutat mencoba segala cara dan merasa "kehilangan pegangan". Kira-kira inilah yang dialami oleh anak yang sedang bertumbuh menjadi besar namun kekurangan interaksi dengan orangtuanya. Banyak hal dalam hidup ini yang perlu ia pelajari. Ia membutuhkan seorang guru yang dapat menjadi teladan baginya. Kehadiran orangtua yang dapat menjadi suri teladan bagi anak, akan menciptakan kepribadian anak yang memiliki pegangan.

Di rumah, saya mendapat "tugas" untuk menidurkan anak laki-laki kami. Anak kami ini senang sekali bermain dengan anjing-anjing kami dan kebetulan salah satu anjing kami memang agak galak. Sudah berulang kali saya dan istri saya mengingatkannya untuk tidak bermain telalu kasar dengan anjing tersebut. Kemarin malam sebelum tidur, kedua putri kami memberi "laporan" kepada saya bahwa putra kami bermain kasar lagi dengan anjing tersebut. Sebenarnya saya ingin memarahinya lagi namun berhubung baru beberapa hari yang lalu saya memarahinya untuk hal yang sama, saya memutuskan hanya menegurnya saja. Biasanya untuk menidurkan putra kami itu, saya hanya bercerita kepadanya. Malam itu hati saya jengkel, jadi saya tidak bercerita, dan ia pun tidak berani meminta saya bercerita (mungkin karena melihat wajah saya yang muram).

Setelah beberapa saat berlalu, dia hanya berguling-guling saja dan tidak dapat tidur, meskipun saya sudah memejamkan mata (salah satu teknik untuk menidurkan anak). Tiba-tiba ia menarik tangan saya dan meletakkannya di atas pipinya, seolah-olah meminta saya untuk menyayanginya sebelum ia tertidur. Hati saya luar biasa sedihnya melihat ia menarik tangan saya dan meletakkannya di atas pipinya. Saya baru diingatkan bahwa setiap malam sebelum tidur, saya selalu mencium dan membelai pipinya. Kemarin malam saya tidak melakukannya karena saya sedang jengkel terhadapnya. Tindakannya itu menunjukkan bahwa ia membutuhkan belaian saya dan akhirnya setelah ia meletakkan tangan saya di atas pipinya, barulah ia tertidur. Tanpa saya sadari, belaian tangan saya telah menjadi ungkapan kasih yang menimbulkan rasa damai dalam kalbunya.

Peristiwa di atas saya tuturkan kembali untuk memperlihatkan begitu banyak makna yang disampaikan kepada anak melalui tindakan-tindakan kita sehari-hari, yang nyaris tidak kita perhatikan karena tampak begitu sederhana.

Kenyataannya adalah, semua tindakan kita - betapa pun sederhananya- membawa makna-makna yang menciptakan dan memperkuat ikatan batiniah antara kita dan anak. Sesungguhnya, tindakan kita sehari-hari merupakan isyarat-isyarat yang menyampaikan begitu banyak pesan kepada anak. Misalnya, "Kami mengasihimu", "Kami memarahimu karena kami tidak ingin kamu terluka di kemudian hari", "Kami mengampunimu", dan segudang pesan penting lainnya yang ia butuh dengar dari kita, hari lepas hari.

Tidak heran, seekor kera bisa memperlihatkan sikap yang penuh ketakutan tatkala ia dibesarkan tanpa orangtuanya. Pengamatan Bowlby juga memberi kita peringatan bahwa keterpisahan anak dengan orangtua membawa dampak-dampak tertentu yang perlu kita sadari. Anak ingin dan perlu membaca isyarat-isyarat dari kita, orangtuanya, isyarat- isyarat yang menekankan bahwa ia merupakan bagian dari hidup kita yang penting. Sebagai penutup, pesan dari Gary Smalley dan John Trent mungkin baik untuk kita ingat, "Orangtua adalah alat Tuhan untuk membangun kedewasaan -kesempurnaan -dalam kehidupan seorang anak."

Dan jangan lupa, peran dan fungsi kita sebagai alat Tuhan ini hanya berlaku untuk sementara waktu saja. Jadi, gunakanlah kesempatan emas ini sebaik-baiknya. Kirimkanlah isyarat sebanyak-banyaknya! Tuhan memberkati kita sekalian.

Daftar Konselor

Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
Esther Susabda, Ph.D.
Asriningrum Utami, M.Th.
Lanny Pranata, M.Th.
Siska Tampenawas, M.Th.
Lucia Indrakusuma, M.A.
Esther Gunawan, M.Th.
Esther Kurniawati, M.Th.
Vivi Handoyo, M.Th.
Debby M. Soeseno, M.Th.
Suherni Santoso, M.A.
Yohanna P. Siahaan, M.Th.
Yonathan A. Goei, Ph.D.
Sandra Mayawati, M.Th.
Suzanna Sibuea, M.Th.
Dan lain-lain.

Konseling Online

Jadwal Konseling Online
Senin-Jumat
(Kecuali Hari Libur)
10.30-12.00 WIB dan 20.00-22.00 WIB

Tentang Kami

Kontak Info

STT Reformed Indonesia (STTRI, dulu STTRII)
Jl. Kemang Utara IX/10, Warung Buncit
Jakarta Selatan, 12760
(Peta lokasi bisa dilihat/diunduh di sini.)

Telp            : (021) 7982819, 7990357
Fax            : (021) 7987437
Email          : reformed@idola.net.id
Website      : www.reformedindonesia.ac.id
    www.konselingkristen.org
Bank          : CIMB Niaga (Cabang Kemang)
No. Acc.     : 800073329000 (Rp.)
                      253.02.00081.001 (USD)
A/n              : Yayasan Lembaga Reformed Indonesia