Jumlah Pengunjung

899328
Today
Yesterday
This Month
850
776
18042


Oleh: Pdt. Paul Gunadi, Ph.D.

Ada satu pengamatan yang saya saksikan berulang kali dalam praktek konseling yang cukup menyedihkan hati, yakni anak laki-laki, yang dibesarkan dalam keluarga di mana keterlibatan ayah sangat minim, cenderung bertumbuh menjadi pemuda tanpa arah. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa ada kaitan yang erat antara keterlibatan ayah dan pertumbuhan kepribadian anak laki-laki. Saya perhatikan biasanya anak-anak seperti ini memperlihatkan beberapa ciri yang serupa misalnya, mereka memiliki banyak keraguan dan ketidakpastian dalam hidup. Mereka bersikap pasif dan menuntut orang untuk senantiasa memahami dan menyediakan kebutuhan mereka. Di dalam mengarungi kehidupan, biasanya mereka mencari-cari “sesuatu” sehingga apa pun yang mereka lakukan tidak akan mampu memberikan kepuasan yang sepenuhnya. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang terus mencari tempat atau habitat mereka dalam hidup ini.

Semua anak—laki atau perempuan—membutuhkan ayah namun secara khusus anak laki-laki membutuhkan figur ayah untuk identifikasi. Saya jelaskan apa yang saya maksud dengan identifikasi. Pada umumnya kita menggunakan istilah identifikasi dalam pengertian bahwa kita melihat adanya persamaan antara yang dimiliki atau dialami seseorang dengan yang kita alami atau miliki. Misalnya, kita berkata bahwa kita dapat mengidentifikasi dengan perasaan seorang teman yang kehilangan pasangannya sebab kita pun pernah kehilangan pasangan kita. Namun sebenarnya Freud memperkenalkan istilah identifikasi bukan dengan pemahaman itu. Menurut Freud, identifikasi adalah menginternalisasikan kualitas yang ada pada orang lain ke dalam diri sendiri. Jadi, semakin dekat hubungan kita dengan seseorang dan semakin berpengaruh orang itu dalam hidup kita, semakin banyak sifat atau kualitasnya yang akan kita serap dan jadikan bagian diri kita.

Ayah dan ibu adalah objek identifikasi terdini dan terkuat. Mereka adalah pemasok bahan yang nantinya diinternalisasikan anak ke dalam dirinya. Semakin banyak interaksi orangtua dan anak, semakin banyak bahan dari orangtua yang akan diserap oleh anak. Bahan yang telah diserap ini kemudian menjadi bagian dari kepribadian anak itu. Sudah tentu di sini berlaku sebuah hukum alam: Bahan buruk akan masuk menjadi bagian yang buruk dari kepribadian anak sedangkan bahan baik akan masuk menjadi bagian yang baik dari kepribadian anak.

Salah satu bahan yang seharusnya diserap oleh anak ialah bahan yang berkaitan dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan. Dapat kita duga bahwa anak perempuan akan menyerap banyak dari ibu sedangkan anak laki akan menyerap dari ayah. Dari ayahlah anak laki-laki belajar menjadi seorang pria dan menjadi pria dalam kebanyakan budaya berarti menjadi seseorang yang tahu akan arah hidupnya, sebab bukankah pada akhirnya pria diharapkan mengepalai keluarganya sendiri?

Kira-kira seperti inilah prosesnya. Pada awalnya semua anak menginternalisasi dari ibu sebab ibulah yang berperan besar pada masa pertumbuhan awal. Dengan bertambahnya usia, anak laki-laki akan harus mengalihkan objek identifikasinya dari ibu ke ayah atas dasar persamaan jenis kelamin. (Sudah tentu anak perempuan tidak perlu mengubah objek identifikasinya.) Ketidakhadiran ayah dalam pertumbuhan anak laki-laki bukan saja akan menciptakan kevakuman objek identifikasi—dan inilah yang akan terus dicari oleh si anak sampai usia dewasanya—kevakuman ini juga telah menciptakan kekosongan arah hidup. Mereka tidak tahu bagaimana mengambil keputusan, tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan (sudah tentu mereka akan malu untuk mengakuinya), dan mereka memiliki seribu satu macam keraguan. Pada akhirnya ironi inilah yang saya lihat: Di belakang ayah-ayah yang terpuji dan terhormat terdapat anak laki-laki yang bingung dan penuh dengan ketidakpastian.

Kunci penyelesaian dari semua ini adalah keterlibatan. Saya perhatikan ada perbedaan antara ayah yang hanya berfungsi sebagai panutan peran (role-model) dan ayah yang terlibat dalam kehidupan anak laki-lakinya. Ayah yang indah tetapi tidak terlibat dalam kehidupan anak laki-lakinya dapat diibaratkan seperti ikan hias di dalam akuarium—sedap dipandang namun sedikitpun tidak bersentuhan dengan kehidupan anaknya. Memang ayah yang seperti ini akan menjadi panutan peran yang positif namun masalahnya adalah, ayah ini tidak melakukan apa-apa untuk menolong anak laki-lakinya menjadi seperti dirinya—mantap dan terarah—karena ia tidak cukup terlibat untuk menjadi penyedia bahan identifikasi bagi anak laki-lakinya.

Acapkali kehilangan keterlibatan ayah bukan saja menghasilkan pribadi yang terombang-ambing tanpa arah tetapi juga menyulut kemarahan, yang biasanya muncul dalam bentuk pemberontakan atau apati. Mohon perhatikan perbandingan ini. Ada anak yang bertumbuh tanpa ayah karena ayah mereka telah meninggal dunia. Sudah tentu mereka akan mengalami kesedihan dan akan merindukan kehadiran ayah dalam hidup mereka. Namun jika situasinya adalah, mereka kehilangan ayah bukan karena kematian melainkan karena kesibukan atau kekurangpedulian, reaksi yang muncul bukan hanya rindu tetapi juga marah. Mereka marah karena mereka melihat bahwa sebenarnya ayah bisa memberikan perhatian namun tidak mau atau tidak cukup peduli. Di pihak lain, mereka merindukan ayah dan mungkin ingin menjadi seperti ayah namun tidak mampu. Alhasil, kemarahan dan kerinduan bercampur dalam diri anak menciptakan konflik internal yang tak terselesaikan.

Amsal menyajikan sebuah skenario yang indah mengenai hubungan ayah-anak dan hikmat, “Dengarkanlah hai anak-anak didikan seorang ayah dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, … Karena ketika aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak … aku diajari ayahku, katanya kepadaku, ‘Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup.” (4:1-4)

“Diajari ayahku.” Betapa indah dan akrab, namun tampaknya itulah yang sekarang telah terhilang.

Daftar Konselor

Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
Esther Susabda, Ph.D.
Asriningrum Utami, M.Th.
Lanny Pranata, M.Th.
Siska Tampenawas, M.Th.
Lucia Indrakusuma, M.A.
Esther Gunawan, M.Th.
Esther Kurniawati, M.Th.
Vivi Handoyo, M.Th.
Debby M. Soeseno, M.Th.
Suherni Santoso, M.A.
Yohanna P. Siahaan, M.Th.
Yonathan A. Goei, Ph.D.
Sandra Mayawati, M.Th.
Suzanna Sibuea, M.Th.
Dan lain-lain.

Konseling Online

Jadwal Konseling Online
Senin-Jumat
(Kecuali Hari Libur)
10.30-12.00 WIB dan 20.00-22.00 WIB

Tentang Kami

Kontak Info

STT Reformed Indonesia (STTRI, dulu STTRII)
Jl. Kemang Utara IX/10, Warung Buncit
Jakarta Selatan, 12760
(Peta lokasi bisa dilihat/diunduh di sini.)

Telp            : (021) 7982819, 7990357
Fax            : (021) 7987437
Email          : reformed@idola.net.id
Website      : www.reformedindonesia.ac.id
    www.konselingkristen.org
Bank          : CIMB Niaga (Cabang Kemang)
No. Acc.     : 800073329000 (Rp.)
                      253.02.00081.001 (USD)
A/n              : Yayasan Lembaga Reformed Indonesia