Jumlah Pengunjung

850201
Today
Yesterday
This Month
1024
1184
22054


Oleh : Pdt. Paul Gunadi, Ph.D.


Memasuki usia paruh baya ini saya semakin disadarkan akan pentingnya bertubuh sehat.Untuk itu secara rutin saya mengecek kesehatan melalui tes darah dan sebagainya.Pernikahan pun memerlukan uji kesehatan.Ada baiknya secara berkala kita memeriksa kondisi pernikahan kita dan dengan jujur melihat keadaan sesungguhnya.Ingat, pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan.Pada kesempatan ini saya ingin membagikan dua indikator untuk menguji kesehatan pernikahan kita.
 

Pertama, pernikahan yang sehat akan membuat kita menjadi individu yang lebih sehat.Saya teringat akan komentar orang tentang Warren Bennis, seorang pakar kepemimpinan di Amerika Serikat, “Bekerja dengan Warren Bennis merupakan sebuah pengalaman yang transformatif.Saudara tidak akan menjadi orang yang sama—sebelum dan sesudahnya.Sesuatu terjadi pada diri Saudara—Ia membuat orang menjadi versi baru yang lebih baik daripada sebelumnya.”Pernikahan mentransformasi kita; masalahnya ialah, apakah kita menjadi orang yang lebih baik atau sebaliknya, menjadi orang yang lebih buruk, setelah menikah.

Saya menyadari ada orang yang justru bertumbuh matang karena menjalani pernikahan yang buruk.Sebetulnya,kita bertumbuh matang bukan karena pernikahan yang buruk itu.Dalam anugerah Tuhan, Ia membentuk kita menjadi individu yang tangguh agar kita kuat melewati hari-hari pernikahan kita yang menyakitkan itu.Meski buah roh seperti kesabaran dan penguasaan diri muncul di tengah pengalaman yang tidak menyenangkan itu, namun menurut saya, sesungguhnya semua perubahan karakter itu terjadi agar kita sanggup mengatasi situasi hidup yang buruk itu.

Pernikahan yang sehat menghasilkan pribadi yang sehat pula—bahkan lebih sehat dari sebelumnya—dan perubahan karakter terjadi bukanlah untuk menambah kesanggupan kita melewati situasi kehidupan yang sulit, sebagaimana yang terjadi dalam pernikahan yang buruk.Di dalam pernikahan yang buruk, kita mengalami tempaan tanpa memperoleh imbalan dari pernikahan itu sendiri.Misalnya, kita terpaksa mengalah dan menyerah karena itulah satu-satunya pilihan yang tersedia. Namun, mengalah dan menyerah tidaklah membuat kita menerima perlakuan yang membangun dari pasangan kita.Kemungkinan besar, mengalah dan menyerah hanyalah upaya untuk menyelamatkan pernikahan atau diri kita dari kehancuran yang lebih dahsyat.

Sebaliknya, di dalam pernikahan yang sehat, kita mengalami tempaan karakter disertai imbalannya.Ada waktu tertentu kita mengalah (bukan menyerah) dan sebagai imbalannya, pasangan kita memuji atau mengagumi perbuatan kita.Atau, ia malah terdorong untuk turut mengalah sehingga pada akhirnya, kerelaan untuk mengalah dan mengutamakan kepentingan bersama menjadi sesuatu yang alamiah untuk dilakukan.Benar-benar sebuah imbalan yang tak ternilai!Alhasil, transformasi karakter tercipta dan kita menjadi versi yang lebih baik dari sebelumnya.Ini indikator pertama untuk mengecek apakah kita mempunyai pernikahan yang baik.

Kedua, pernikahan yang sehat adalah pernikahan yang swasembada—mendapatkan kecukupan berkat usaha sendiri.Ada satu kutipan dari Nathanael Hawthorne yang menyentuh hati saya, “Ia (she) adalah satu-satunya orang di dunia ini yang saya perlukan.”Pernikahan yang sehat membuat kita menjadi orang yang berorientasi ke dalam—perkawinan sendiri.Kita tidak perlu keluar mencari-cari pemenuhan kebutuhan kita sebab kita sudah dan bisa memperolehnya dari pasangan sendiri.

Sebaliknya dengan pernikahan yang buruk.Di dalam pernikahan ini kita merasakan kehampaan dan kita tidak dapat bergantung pada pasangan kita untuk memenuhi kebutuhan kita.(Bukankah acap kali dia adalah bagian atau bahkan penyebab dari kehampaan itu?)Akibatnya, kita tergoda menoleh keluar untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan kita melalui berbagai cara, dari yang relatif sehat sampai yang tidak sehat dan berdosa, seperti bekerja, kegiatan pelayanan, curhat dengan teman, berselingkuh, dan sebagainya.Itu sebabnya, saya mengamati pernikahan yang tidak sehat sangat memerlukan topangan dari orang atau unsur lain.Tanpa topangan yang lain, niscaya runtuhlah pernikahan itu.

Saya menyadari bahwa tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi oleh pasangan kita dan seyogianyalah kita bersikap realistik akan hal ini.Namun, saya berkeyakinan, dengan berjalannya waktu (Ingat, semua ini tidak terjadi dalam sekejap!), pernikahan yang sehat akan mengubah kita menjadi lebih terampil memenuhi kebutuhan pasangan kita.Dengan kata lain, semakin lama kita menikah, seharusnya semakin cekatan kita memenuhi kebutuhan masing-masing dan semakin kecil kebutuhan yang harus dipenuhi oleh unsur-unsur luar.

Saya berharap Saudara dapat memanfaatkan dua uji kesehatan ini. Duduklah bersama dan bicarakanlah dengan pasangan masing-masing.Nilai yang tinggi akan membuat kita makin bersemangat memelihara pernikahan kita.Nilai yang rendah seharusnya membuat kita prihatin dan tergerak untuk memperbaharui pernikahan kita.

Daftar Konselor

Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
Esther Susabda, Ph.D.
Asriningrum Utami, M.Th.
Lanny Pranata, M.Th.
Siska Tampenawas, M.Th.
Lucia Indrakusuma, M.A.
Esther Gunawan, M.Th.
Esther Kurniawati, M.Th.
Vivi Handoyo, M.Th.
Debby M. Soeseno, M.Th.
Suherni Santoso, M.A.
Yohanna P. Siahaan, M.Th.
Yonathan A. Goei, Ph.D.
Sandra Mayawati, M.Th.
Suzanna Sibuea, M.Th.
Dan lain-lain.

Konseling Online

Jadwal Konseling Online
Senin-Jumat
(Kecuali Hari Libur)
10.30-12.00 WIB dan 20.00-22.00 WIB

Tentang Kami

Kontak Info

STT Reformed Indonesia (STTRI, dulu STTRII)
Jl. Kemang Utara IX/10, Warung Buncit
Jakarta Selatan, 12760
(Peta lokasi bisa dilihat/diunduh di sini.)

Telp            : (021) 7982819, 7990357
Fax            : (021) 7987437
Email          : reformed@idola.net.id
Website      : www.reformedindonesia.ac.id
    www.konselingkristen.org
Bank          : CIMB Niaga (Cabang Kemang)
No. Acc.     : 800073329000 (Rp.)
                      253.02.00081.001 (USD)
A/n              : Yayasan Lembaga Reformed Indonesia