Jumlah Pengunjung

966664
Today
Yesterday
This Month
698
720
18381


Oleh: Pdt. Paul Gunadi, Ph.D.

Beberapa waku yang lalu saya membahas tentang Gangguan Stres Pasca-Trauma (Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD) yang merupakan stres berat akibat peristiwa traumatik (menakutkan) yang kita alami sebelumnya. Peristiwa 12-14 Mei, 1998 di Jakarta serta peristiwa kerusuhan lainnya seperti di Solo dan Medan, dapat dikategorikan sebagai peristiwa traumatik yang berpotensi tinggi menyebabkan munculnya gangguan PTSD. Hati saya sangat trenyuh menyaksikan merajalelanya sisi gelap dari manusia yang sudah tak terkendali lagi. Saya juga mengkhawatirkan dampak berkepanjangan dari kerusuhan pada jiwa yang terpaksa mengalaminya. Penyerangan, pembakaran, dan penganiayaan secara langsung mengancam rasa aman pada diri kita yang pada akhirnya membuat kita mengkerut ketakutan dan selalu was-was.

Gejala-gejala PTSD yang biasanya tampak adalah ketegangan dan rasa takut yang mencekam. Ketegangan atau kecemasan yang tinggi dapat berwujud secara fisik pula. Misalnya ada yang mengeluarkan keringat dingin, sakit perut, pening, mual bahkan muntah-muntah. Secara mental ada yang menjadi sangat tegang sehingga sulit berkonsentrasi dan mungkin ada sebagian yang tak berani tidur sendirian lagi. Ada yang mungkin harus mengalami gangguan tidur misalnya sulit tidur (insomnia) atau kerap terjaga karena mimpi yang menyeramkan. Anak-anak yang menyaksikan peristiwa itu mungkin sekali akan takut ditinggal sendirian dan senantiasa minta ditemani. Tiba-tiba kita semua-baik anak maupun orang dewasa-kehilangan keberanian menghadapi hidup. Daripada menghadapi hidup yang menegangkan, kita memilih menghindar. Lutut pun terasa lemah lunglai, bak daging tanpa tulang.

Di balik gejala ketakutan yang mencekam itu sebenarnya terjadi suatu proses sebab-akibat yang mesti dipatahkan. Sekurang-kurang ada dua pemicu yang dapat menghidupkan kembali ketakutan semula. Pertama, ketakutan itu muncul tatkala kita kembali membayangkan peristiwa mengerikan yang kita lihat itu. lbarat sebuah proyektor, otak kita akan terus menerus memantulkan kejadian demi kejadian yang menyeramkan itu di layar putih pikiran kita. Sudah tentu kita akan berupaya menghapus rekaman peristiwa yang keji itu namun usaha kita biasanya sia-sia. Apa yang telah terekam oleh susunan syaraf di otak kita seolah-olah telah melekat dan tidak mudah dikuliti. Dengan demikian dimulailah suatu proses sebab-akibat yang berputar bak lingkaran setan. Bayangan menakutkan muncul di luar kehendak kita; akibatnya kita pun merasa tegang dan takut karena kita seolah-olah dibawa masuk kembali ke saat itu. Misalnya, jika kita ditarik keluar dari mobil dan menerima pemukulan, gambar ini akan sering tertayang di layar pikiran kita. Atau, kita menyaksikan bagaimana sekelompok orang masuk ke rumah kita dan mulai mengobrak-abrik segala isinya. Bayangan ini juga dapat melintas dan membuat kita mengingat-ingat peristiwa yang menakutkan itu.

Kedua, ketakutan itu muncul tatkala kita berhadapan dengan situasi yang memiliki kemiripan dengan peristiwa traumatik tersebut. Misalnya, kita mudah merasa tegang apabila berpapasan dengan kerumunan orang banyak sebab itulah yang kita lihat pada waktu kerusuhan. Kita bisa menjadi orang yang takut membuka pintu terhadap orang yang tak dikenal sebab rumah kita telah menjadi ajang penjarahan orang-orang yang tak dikenal. Atau, kita mudah merasa tegang tatkala mendengar teriakan atau jeritan sebab itulah yang kita dengar tatkala para korban mengalami penganiayaan dari para perusuh. Dengan kata lain, segala hal yang mempunyai kemiripan dengan peristiwa menakutkan itu akan memicu reaksi tegang dari diri kita. Secara otomatis kita akan berusaha tidak berada dekat dengan segala situasi yang mengingatkan kita akan penderitaan yang mencekam itu.

Ada beberapa hal yang dapat saya sarankan namun sebelumnya perlu saya ingatkan bahwa proses pemulihan ini akan memakan waktu yang Danjang. Peristiwa traumatik acap kali menggoyahkan persendian daya tahan mental kita dan untuk mengokohkannya kembali butuh waktu yang tidak sedikit. Pertama, izinkan diri kita untuk mengeluarkan perasaan takut secara langsung dan konkret. Jika memungkinkan, ungkapkan ketegangan kita dengan segera, jangan menunda-nunda atau berkata, "lain kali." Ini yang saya maksud dengan "langsung." Kita pun perlu (apabila memungkinkan) mengekspresikan ketakutan kita, bukan menimbang-nimbangnya dalam hati. Jadi, kita dapat meminta seseorang mendengarkan kita menceritakan pengalaman itu dan tidak perlu kita merasa "nora." atau "lemah." Adakalanya kita mesti menangis dan silakan lakukan itu tanpa perlu menahan-nahannya. Mungkin kita perlu pula mencetuskan kemarahan kita atas perlakuan semena-mena yang telah kita terima. Silakan keluarkan kemarahan itu namun tak perlu kita membalas perbuatan jahat dengan kejahatan.

Khusus bagi yang mempunyai anak kecil, temani dia sewaktu ia memintanya. Jangan kita memaksanya untuk sendirian sebab itu tidak akan menolongnya mengatasi rasa takutnya. Namun secara perlahan-lahan kita pun perlu meyakinkan dia bahwa keadaan sekarang tidaklah seberbahaya saat itu dan bahwa kita akan melindunginya. Proses ini bisa membutuhkan waktu beberapa minggu tetapi bisa juga beberapa bulan. Satu hal lain yang dapat kita lakukan untuk anak kita adalah dengan mengajaknya bicara tentang perasaannya itu. Anak kecil belum memiliki kernampuan mental yang memadai untuk memproses perasaan atau reaksinya. Jadi, kita dapat membantunya memproses dan sekaligus mengekspresikan perasaannya dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang simpatik. Misalnya, kita bisa memulai dengan membagikan perasaan kita terlebih dahulu, "Papa merasa takut sewaktu orang menggedor-gedor rumah kita. Apakah kamu merasa takut pula saat itu?" Setelah itu kita mengajaknya berdoa dan sekali lagi kita dapat menyisipkan perasaan takut kita melalui doa kepada Tuhan.

Kedua, kita mesti mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang indah dan menyejukkan. Tuhan pernah berfirman, "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkaniah semuanya itu." (Filipi 4:8) Bayangan-bayangan mengerikan yang telah terekam akan menjadi bagian memori kita. Jadi, yang perlu kita lakukan bukanlah mencoba melupakannya (karena tidak akan berhasil) melainkan isilah pikiran kita dengan hal-hal yang indah, manis, sedap didengar, baik, dan suci. Sudah tentu yang terbaik dan terutama adalah Firman Tuhan sendiri. Mulailah hafalkan ayat Alkitab setiap han dan jangan lupa bersaat teduh dengan Tuhan setiap pagi. Dengarkanlah musik yang indah dan menyejukkan kalbu; pergilah ke tempat yang tenang dan asri. Kita dapat pula membaca buku-buku yang baik (tidak harus buku rohani) agar pikiran kita mulai melepaskan diri dari bayanganbayangan seram itu. Sedikit demi sedikit hal-hal yang baik dan indah itu akan mengisi benak kita dan menggeser tempat muatan traumatik tersebut. Mudah-mudahan saran ini bermanfaat bagi kita semua.

Daftar Konselor

Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
Esther Susabda, Ph.D.
Asriningrum Utami, M.Th.
Lanny Pranata, M.Th.
Siska Tampenawas, M.Th.
Lucia Indrakusuma, M.A.
Esther Gunawan, M.Th.
Esther Kurniawati, M.Th.
Vivi Handoyo, M.Th.
Debby M. Soeseno, M.Th.
Suherni Santoso, M.A.
Yohanna P. Siahaan, M.Th.
Yonathan A. Goei, Ph.D.
Sandra Mayawati, M.Th.
Suzanna Sibuea, M.Th.
Dan lain-lain.

Konseling Online

Jadwal Konseling Online
Senin-Jumat
(Kecuali Hari Libur)
10.30-12.00 WIB dan 20.00-22.00 WIB

Tentang Kami

Kontak Info

STT Reformed Indonesia (STTRI, dulu STTRII)
Jl. Kemang Utara IX/10, Warung Buncit
Jakarta Selatan, 12760
(Peta lokasi bisa dilihat/diunduh di sini.)

Telp            : (021) 7982819, 7990357
Fax            : (021) 7987437
Email          : reformed@idola.net.id
Website      : www.reformedindonesia.ac.id
    www.konselingkristen.org
Bank          : CIMB Niaga (Cabang Kemang)
No. Acc.     : 800073329000 (Rp.)
                      253.02.00081.001 (USD)
A/n              : Yayasan Lembaga Reformed Indonesia