Jumlah Pengunjung

847575
Today
Yesterday
This Month
358
1090
19428


Oleh: Pdt. Paul Gunadi, Ph.D.

Makin hari makin saya menyadari pentingnya pengaruh keluarga dalam pertumbuhan jiwa. Kebanyakan dari klien saya adalah orang dewasa namun sesungguhnya kebanyakan dari masalah yang mereka hadapi sekarang berhulu dari masalah yang mereka alami pada masa kecil, tatkala mereka bertumbuh dalam keluarga asal mereka. Istilah PTSD adalah kepanjangan dari Post-Traumatic Stress Disorder yang kalau diterjemahkan menjadi Gangguan Stres Pasca-Trauma. Artinya, gangguan stres atau tekanan berlebihan yang kita rasakan sekarang sebetulnya merupakan akibat dari suatu peristiwa traumatik yang pernah kita alami sebelumnya. Istilah traumatik di sini bisa merujuk pada peristiwa yang sangat menakutkan dan mengerikan atau sesuatu yang sangat menyakitkan, baik secara emosional maupun fisik.

 

Peristiwa traumatik ini bisa terjadi pada masa kecil ataupun pada masa dewasa. Kasus PTSD yang berawal pada usia dewasa banyak ditemukan pada veteran perang yang harus menyaksikan kekejaman di luar batas. Biasanya gejala yang dialami adalah mimpi-mimpi yang bertema ketakutan atau mengerikan namun bisa juga rasa takut mencekam yang muncul secara tiba-tiba. Dalam kadar yang lebih rendah kita dapat mengalami ketegangan tanpa sebab, yang pada umumnya bermanifestasi dalam bentuk keluarnya keringat dingin dengan deras, jantung berdetak lebih cepat dan lebih keras, atau kebingungan seolah-olah tersesat entah di mana.

 

Meski PTSD dapat dimulai pada usia dewasa namun cukup banyak kasus PTSD berawal pada masa kecil dan dari lingkungan keluarga sendiri. Ada anak yang mengalami penyiksaan yang melewati batas; ada pula yang harus menyaksikan pertengkaran orang-tua yang melibatkan kontak fisik. Peristiwa-peristiwa ini akhirnya menimbulkan bekas yang mendalam dan membuahkan ketegangan. Kadang gejala PTSD muncul pada usia remaja tetapi tidak jarang ada yang muncul setelah kita beranjak dewasa, setelah melewati kurun yang relatif bebas dari ketegangan.

 

Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa PTSD tidak muncul pada saat kita mengalami trauma itu sendiri. Sebenarnya ketakutan atas trauma sudah ada pada saat terjadinya trauma sebab PTSD merupakan akibat berkepanjangan dari trauma yang mengerikan itu. Setelah trauma berlalu, kita pun kemudian beranggapan bahwa rasa takut itu akan lewat

 

dengan sendirinya. Di luar dugaan, ternyata trauma itu sudah membekas dan pada saat kita mengalami ketegangan dari sumber yang lain, rasa takut yang muncul berlipat ganda. Ketakutan yang telah terpuruk akhirnya menyeruak keluar dan kali ini ia keluar bak raksasa yang menindih kita tanpa daya.

 

Adakalanya imbasan trauma tidak terlalu kita hiraukan pada saat kita mengalaminya karena kita harus tetap hidup. Membiarkan diri merasakan ketakutan atau kengerian terus menerus dapat mematahkan kerangka psikis kita. Agar dapat bertahan hidup, kita pun terpaksa mematirasakan diri. Sebagai contoh, para tentara harus mengebaikan daya tahan dan tidak boleh membiarkan rasa takut menguasai mereka jika mereka ingin terus hidup. Itulah sebabnya stres baru mulai menampakkan diri setelah mereka lepas dari kancah peperangan. Bayang-bayang mengerikan dari pertempuran yang menegangkan syaraf tiba-tiba menyembul tanpa terencana. Rasa takut yang sebenarnya telah ada itu muncul keluar karena kita "lengah," dalam pengertian, kita tak lagi menonaktifkan perasaan kita sebab memang tidak perlu-keadaan sudah aman. Dalam keadaan tenteram itulah kita dikagetkan; ternyata monster menakutkan itu tetap hidup!

 

Tidak ada yang dapat menjelaskan kerja psikis kita dengan tepat dan ilmiah; alam psikis merupakan misteri yang muskil dinalar. Tidak ada yang mampu menjabarkan bagaimanakah sesungguhnya memori ketakutan itu disimpan hingga kemudian dilepaskan kembali. Namun yang pasti adalah, bagi kita yang tak pernah mengalami peristiwa traumatik, kita tidak terganggu oleh ketegangan yang berlebihan serta irasional ini. Sebaliknya, bagi kita yang pernah melewati masa yang penuh trauma, sering kali hidup kita dibayang-bayangi oleh ketegangan yang berlebihan.

 

Penderita PTSD acap kali harus menerima cemoohan dari orang di sekitarnya. Ada yang menganggap bahwa ketakutannya dibuat-buat karena tidak berani menghadapi tuntutan hidup. Ada yang mengecapnya, lemah. Ada pula yang mengira bahwa menghilangkan rasa takut yang irasional ini sama mudahnya dengan membalikkan tangan. Kira-kira ungkapan yang sering didengarnya berbunyi seperti ini, "Sudah tahu irasional, ya, sudah, jangan dirasakan lagi!" Kalau memang semudah itu, saya yakin, semua penderita PTSD sudah tentu akan dengan senang hati melakukannya. Tidak ada seorang pun yang ingin hidup dalam ketakutan; kalaupun kita memilih untuk tetap hidup dalam ketakutan, itu dikarenakan kita terlalu takut untuk mengalami ketakutan yang amat sangat itu.

 

Jalan menuju pemulihan bisa pendek namun bisa pula panjang, tergantung pada berapa besar intensitas trauma, berapa seringnya terjadi, dan berapa lamanya berlangsung. Pemulihan juga bergantung pada berapa kuatnya daya tahan kita menghadapi stres, berapa besarnya dukungan sosial yang kita terima, dan berapa berimannya kita pada pemeliharaan Tuhan. Namun, di samping semua itu kita harus melakukan tiga hal. Pertama, kita harus mengakui bahwa trauma lampau yang telah terjadi merupakan penyumbang terbesar dari ketegangan kita sekarang ini. Pengakuan ini adakalanya sukar dicetuskan karena acap kali trauma tersebut melibatkan anggota keluarga yang telah merawat kita. Kadang kita harus berani berujar bahwa ia yang telah merawat kita, adalah ia yang telah pula melukai kita, baik dengan sengaja maupun tidak.

 

Kedua, kita perlu mengungkapkan perasaan-perasaan yang muncul pada saat trauma itu terjadi. Mungkin perasaan marah dan benci akan berdiri berdampingan dengan perasaan takut atau ngeri. Mengekspresikan perasaan yang telah terkubur ini tidaklah mudah karena ada ketakutan bahwa sekali perasaan ini muncul, kita tidak akan berdaya menghentikannya. Kadang timbul kekhawatiran, sekali perasaan ini keluar, kita pun akan dikuasainya sampai menjadi gila. Untuk tahap ini, saya menganjurkan bimbingan seorang psikoterapis agar pengekspresian emosi bisa berjalan dengan terarah.

 

Ketiga, penderita PTSD harus bertatapan dengan Tuhan secara langsung. Kita sadar bahwa Tuhan mengasihi kita; kalau tidak, Ia tidak akan lahir di dunia ini meninggalkan kemuliaan sorgawi. Jika Ia tidak mengasihi kita, Ia tidak akan rela membatasi diri menjadi seorang bayi. Namun, apabila Ia mengasihi kita, mengapa Ia membiarkan kita dilahirkan dalam keluarga kita dan mengalami segala kepahitan yang akhirnya melumpuhkan diri kita sekarang. Sungguh suatu pertanyaan yang menyakitkan karena keluar dari hati yang terluka; sama menyakitkannya dengan Natal sebab Ia pun dilahirkan dalam kepahitan hidup - di kandang binatang. Suatu trauma.

Daftar Konselor

Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
Esther Susabda, Ph.D.
Asriningrum Utami, M.Th.
Lanny Pranata, M.Th.
Siska Tampenawas, M.Th.
Lucia Indrakusuma, M.A.
Esther Gunawan, M.Th.
Esther Kurniawati, M.Th.
Vivi Handoyo, M.Th.
Debby M. Soeseno, M.Th.
Suherni Santoso, M.A.
Yohanna P. Siahaan, M.Th.
Yonathan A. Goei, Ph.D.
Sandra Mayawati, M.Th.
Suzanna Sibuea, M.Th.
Dan lain-lain.

Konseling Online

Jadwal Konseling Online
Senin-Jumat
(Kecuali Hari Libur)
10.30-12.00 WIB dan 20.00-22.00 WIB

Tentang Kami

Kontak Info

STT Reformed Indonesia (STTRI, dulu STTRII)
Jl. Kemang Utara IX/10, Warung Buncit
Jakarta Selatan, 12760
(Peta lokasi bisa dilihat/diunduh di sini.)

Telp            : (021) 7982819, 7990357
Fax            : (021) 7987437
Email          : reformed@idola.net.id
Website      : www.reformedindonesia.ac.id
    www.konselingkristen.org
Bank          : CIMB Niaga (Cabang Kemang)
No. Acc.     : 800073329000 (Rp.)
                      253.02.00081.001 (USD)
A/n              : Yayasan Lembaga Reformed Indonesia