Jumlah Pengunjung

1012935
Today
Yesterday
This Month
1017
714
26137


Oleh: Pdt. Paul Gunadi, Ph.D.

Manusia tidak pernah berhenti berkelahi. Adakalnya kita berkelahi untuk menang, namun kadang kita berkelahi untuk hidup. Salah satu perkelahian untuk hidup yang kerap menantang adalah perkelahian melawan penyakit. Misalnya, bagi para penderita kanker, radiasi dan chemotherapy menjadi perkakas perang melawan sel-sel ganas yang menggerogoti tubuh. Kadang kita menang dan bertahan hidup, namun kadang kita kalah.

Salah satu dampak perkelahian melawan penyakit menakutkan itu adalah depresi. Tidak jarang kita kalah sebelum maju berperang. Acap kali meski tubuh masih bernyawa, jiwa tidak lagi bernapas. Kehidupan menjadi begitu jauh dan tawar; jiwa tertindih oleh onggokan rasa takut, sedih, bercampur frustasi. Kita menyangkal, marah, mencoba tawar menawar, namun akhirnya tenggelam dalam depresi tanpa dasar.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa depresi kerap menderapenderitasakitterminal seperti kankerdan lainnya.Suasana hati menjadi kelabu dan murung, semangat hidup terbang meninggalkan kalbu, keinginan mengakhiri hidup pun mulai menggoda. Hari ini dan esok menjadi begitu sama dan tidak menarik, membuat kita bertanya, "Untuk apakah saya hidup?" Napas menjadi satu-satunya aktivitas.

Tidak dapat disangkal, sekuat apa pun kita, bayang maut tetap mendebar sukma. Bak perjalanan, kita telah sampai ke titik akhir sebelum melangkah ke alam yang berbeda.Kita dipaksa untuk meninggalkan semua yang kita kenal dan genggam, untuk mengatakan "selamat tinggal" kepada kekasih dan pengasih. Kita sedih karena kali ini kata perpisahan benar-benarbermakna, pisah.

Acap kali penderita sakit terminal terpaku di persimpangan antara membagi kesedihan atau menyimpannya. Kerinduan hati adalah membagi kesedihan namun lidah berhenti berucap melihat mata sedih yang memandang. "Saya harus kuat dan menghibur mereka yang bersedih!" itulah kira-kira yang kita katakan. Kita tidak nyaman memperlihatkan kesedihan karena kita takut membuat para pengasih dan pengasuh makin redup dalam kegundahan. Itu sebabnya banyak yang akhirnya memutuskan untuk tidak berkata-kata dan memilih hidup dalam kesunyian.

Ada pula yang tidak ingin mencetuskan kesedihannya karena baginya kesedihan berarti kelemahan. Kita yang terbiasa mengemban peran si kuat dan si penopang, tidak terbiasa melihat diri lemah dan butuh topangan. Kita tidak ingin menyusahkan orang namun sesungguhnya kita memerlukan perhatiannya. Pada akhirnya munculah perilaku saling bertentangan yang membingungkan. Di satu pihak kita tidak ingin menyusahkan orang dan malah meyakinkan semua bahwa kita, "baik-baik saja," namun di pihak lain, kita kecewa dan marah tatkala sapaan makin berkurang. Masalahnya adalah, tatkala perhatian ditawarkan, dengan cepat kita menolaknya.

Pada dasamya kesedihan penderita sakit terminal berpangkal dari satu sumberyakni kehilangan diri. Ada tiga dimensi yang termaktub dalam kehilangan diri ini yaitu kehilangan diri masa lalu, kehilangan diri masa sekarang, dan kehilangan diri masa depan. Penyakit yang menggeroti tubuh telah mengubah diri yang kita kenal di masa lampau. Tiada lagi diri yang kokoh, yang tersisa adalah diri yang ringkih. Tidak ada lagi diri yang produktif, yang ada hanyalah diri yang menanti dengan pasif. Kita tidak lagi dapat menghubungkan diri di masa lampau dengan diri di masa sekarang. Kita tidak lagi mengenal diri yang sekarang sebab diri yang sekarang menjadi begitu berbeda dari yang sebelumnya. Ketidaksinambungan ini memutuskan tali ikatan antara diri di dua masa dan sebagai akibatnya, kita kehilangan diri. Kita tidak tahu lagi siapa diri kita ini.

Untuk membentuk jati diri - yang biasanya dimulai di awal masa remaja - diperlukan perbandingan dan kesinambungan antara diri di masa lampau dan diri di masa depan. Kita harus memiliki inventarisasi akan siapakah diri yang kita kenal di masa lampau sampai sekarang dan kita pun harus sanggup membayangkan siapakah diri kita di masa mendatang. Penderita sakit terminal kehilangan diri di masa sekarang akibat perubahan besar yang terjadi pada dirinya sekarang.

Masalahnya bertambah parah karena penderita sakit terminal tidak dapat membayangkan dirinya di masa mendatang. Bagaimanakah mungkin ia membayangkan diri di masa mendatang bila ia tidak tahu apakah ia masih akan ada seminggu setelah hari ini? Pada akhirnya, diri di masa sekarang terputus dari diri masa depan. Alhasil, diri di masa sekarang termenung sendirian - terlepas dari masa lampau dan terputus dari masa depan. Inilah kehilangan diri. Dan sewaktu diri terhilang, sesuatu yang sangat hakiki dengan kehidupan pun turut lenyap.

Depresi menyergap tatkala mata menatap ke bawah - ke tubuh dan diri yang mulai senyap. Hanya ada satu cara untuk menangkalnya: melihat ke atas dan merengkuh kekekalan. Sakit terminal adalah jembatan kasat mata yang menghubungkan kekinian dan kekekalan. Ibarat tangga dalam mimpi Yakub di mana malaikat-malaikat Allah turun naik (Kejadian 28:12), sakit terminal menghubungkan kita dengan Juruselamat dan Pengasih jiwa kita secara lebih nyata dan dekat. Di bawah tangga itulah kita baru dapat mendengarjelasjanji yang Tuhan ikrarkan kepada Yakub, "Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau . . . sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu."

Yakub menyebut tempat itu, "pintu gerbang sorga" dan menamainya, Betel - rumah Allah. Di dalam Kristus, sakit terminal merupakan pintu gerbang sorga dan tempat di mana kita berbaring sakit menjadi "rumah Allah."

 

Daftar Konselor

Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
Esther Susabda, Ph.D.
Asriningrum Utami, M.Th.
Lanny Pranata, M.Th.
Siska Tampenawas, M.Th.
Lucia Indrakusuma, M.A.
Esther Gunawan, M.Th.
Esther Kurniawati, M.Th.
Vivi Handoyo, M.Th.
Debby M. Soeseno, M.Th.
Suherni Santoso, M.A.
Yohanna P. Siahaan, M.Th.
Yonathan A. Goei, Ph.D.
Sandra Mayawati, M.Th.
Suzanna Sibuea, M.Th.
Dan lain-lain.

Konseling Online

Jadwal Konseling Online
Senin-Jumat
(Kecuali Hari Libur)
10.30-12.00 WIB dan 20.00-22.00 WIB

Tentang Kami

Kontak Info

STT Reformed Indonesia (STTRI, dulu STTRII)
Jl. Kemang Utara IX/10, Warung Buncit
Jakarta Selatan, 12760
(Peta lokasi bisa dilihat/diunduh di sini.)

Telp            : (021) 7982819, 7990357
Fax            : (021) 7987437
Email          : reformed@idola.net.id
Website      : www.reformedindonesia.ac.id
    www.konselingkristen.org
Bank          : CIMB Niaga (Cabang Kemang)
No. Acc.     : 800073329000 (Rp.)
                      253.02.00081.001 (USD)
A/n              : Yayasan Lembaga Reformed Indonesia