Jumlah Pengunjung

2608344
Today
Yesterday
This Month
810
1464
34943


Oleh: Esther Susabda, Ph.D.

Saya tetap mengasihi ayah walaupun beliau sudah berjinah. Ia berusaha untuk bercerai dengan ibu, bahkan sudah memikirkan menikah dengan wanita tersebut. Satu pihak saya merasa terpukul. Pihak lain saya tau bahwa kesalahan utama memang terletak pada ibu, yang sangat keras kepala, menjengkelkan, cerewet dan mau menangnya sendiri. Saya juga mengakui bahwa ibu adalah seorang pekerja yang ulet, berani mati tapi beliau tidak menghargai ayah, bahkan seringkali menekan dan memaki di depan kami anak-anak sejak kecil. Memang saya juga harus mengakui ayah tidak sepandai ibu dalam usaha dagangnya, dan ayah juga cepat putus asa dan pesimis, tapi beliau sudah cukup berusaha keras untuk maju.

Sekarang keluarga kami sudah berantakan, Bu. Saya mulai kasihan juga melihat ibu saya yang depressi bahkan sudah berulangkali mencoba untuk bunuh diri setelah mengetahui perselingkuhan ayah dan memasuki proses perceraian tahun lalu. Sudah berulangkali saya mengajak ibu untuk berkonsultasi, tapi beliau selalu menolak dengan alasan, “ayah yang salah mengapa ibu yang dikonseling?”. Ibu selalu berpikir karena bukan dia yang berjinah ia tidak bersalah, dan tidak seharusnya ia menemui konselor. Beliau juga tidak lagi mau ke gereja, karena malu ataupun berdoa. Bagaimana saya harus bersikap, Bu?

Jawab:
Memang hidup penuh dengan hal-hal yang tidak fair, tetapi sebagai manusia dewasa kita harus bertanggung jawab untuk memilih sikap yang terbaik. Sayang sekali ayah anda sudah memilih respon yang keliru atas ketidak-dewasaan dan kelemahan ibu. Seharusnya ayah tidak bersikap seperti kekanak-kanakan, yang merasa berhak untuk mendapatkan kebahagiaan seperti apa yang ia mau. Sebagai seorang kepala keluarga, seharusnya beliau memahami bahwa hidupnya adalah hidup seorang dewasa yang siap menghadapi dan menyelesaikan setiap masalah yang ada, demi membangun keluarga dan memenuhi segala kebutuhannya. Memang menurut anda, beliau sudah berusaha keras, tapi tanggung jawabnya bukan cuma sampai disitu. Ia harus juga menjadi kepala keluarga yang dapat memimpin, memberi rasa aman dan menghadirkan hal-hal yang baik dalam kehidupan keluarga. Ia sebagai anak Tuhan juga harus mempunyai kehidupan rohani yang sehat, pengenalan akan Tuhan yang benar, dan sikap yang dewasa dalam mengatasi watak-watak buruk istri. Sayang ia memilih sikap seperti anak-anak yaitu lari dari realita karena tidak mampu menyelesaikannya. Bahkan sebagai orang Kristen ia tidak takut berbuat dosa, mencoba menceraikan istri dan berusaha menikah dengan perempuan lain. Ia merasa berhak untuk menikmati hidup sesuai dengan apa yang ia mau, karena kegagalannya sendiri.

Dipihak lain, anda simpati dan membela ayah tanpa alasan yang jelas. Sesuai dengan subjektifitas dan perasaan yang muncul, anda cenderung mempersalahkan ibu. Memang ibu anda adalah wanita dengan banyak kelemahan pribadi, yang mungkin justru hidup dan berkembang oleh karena kesalahan ayah yang mungkin cenderung pesimis, penakut dan mungkin juga tidak bijaksana dan tidak dewasa ?

Memang kelihatannya untuk saat ini hati nurani ayah belum terbuka untuk kebenaran, begitu pula dengan ibu yang masih belum mau mencari pertolongan konselor karena jiwanya sangat terpukul dan merasa gagal dalam hidup. Tanpa pimpinan dan pertolongan Tuhan, memang sulit untuk membawa mereka rujuk kembali, tapi bukan sesuatu yang mustahil. Untuk sementara waktu, pada saat mereka berdua masih bersitegang dengan kebenaran masing-masing, memang tidak ada sesuatu yang konkrit yang anda bisa lakukan, kecuali bergantung pada kasih karunia Tuhan dan banyak berdoa.

Apabila mereka sudah mulai tenang kembali, cobalah untuk membangun suasana komunikasi yang dialogis dan lebih dewasa antara ayah dan ibu. Anda harus bersikap fair terhadap mereka berdua. Cobalah untuk mengenali ayah dan ibu dengan lebih baik tanpa memihak. Hanya dengan pengenalan yang utuh inilah anda akan mulai belajar memilah dan mendapatkan muatan pendidikan yang baik dan nantinya akan mendewasakan anda. Mintalah kebijaksanaan dari Tuhan untuk apa yang anda dapat katakan dan perbuat. Anda bisa memulainya dengan menterjemahkan kata-kata mereka dengan bahasa yang lebih sehat. Jadi, tugas utama anda adalah ikut menciptakan kembali kontak antara mereka berdua, sambil berharap bahwa suatu hari kelak mereka juga mau bertemu dengan konselor. Pengalaman ibu anda yang begitu pahit membutuhkan terapi yang cukup panjang untuk bisa mengampuni ayah. Sebaliknya, ayah dan ibu juga membutuhkan campur tangan Tuhan untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam kehidupan mereka berdua.

“Semoga Tuhan yang sudah memulai hal yang baik (melalui anda) akan meneruskannya sampai pada akhirnya (Fil 1:6)” dan membuka peluang untuk timbulnya lagi cinta kasih antara mereka berdua.

Daftar Konselor

Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
Esther Susabda, Ph.D.
Dr. Ir. Asriningrum Utami
Lanny Pranata, M.Th.
Siska Tampenawas, M.Th.
Lucia Indrakusuma, M.A.
Esther Gunawan, M.Th.
Esther Kurniawati, M.Th.
Vivi Handoyo, M.Th.
Debby M. Soeseno, M.Th.
Suherni Santoso, M.A.
Yohanna P. Siahaan, M.Th.
Yonathan A. Goei, Ph.D.
Sandra Mayawati, M.Th.
Suzanna Sibuea, M.Th.
Dan lain-lain.

Konseling Online

Jadwal Konseling Online
Senin-Jumat
(Kecuali Hari Libur)
10.30-12.00 WIB dan 20.00-22.00 WIB

Tentang Kami

Kontak Info

STT Reformed Indonesia (STTRI, dulu STTRII)
Jl. Kemang Utara IX/10, Warung Buncit
Jakarta Selatan, 12760
(Peta lokasi bisa dilihat/diunduh di sini.)

Telp            : (021) 7982819, 7990357
Fax            : (021) 7987437
Email          : reformed@idola.net.id
Website      : www.reformedindonesia.ac.id
    www.konselingkristen.org
Bank          : CIMB Niaga (Cabang Kemang)
No. Acc.     : 800073329000 (Rp.)
                      253.02.00081.001 (USD)
A/n              : Yayasan Lembaga Reformed Indonesia