Jumlah Pengunjung

847569
Today
Yesterday
This Month
352
1090
19422


Oleh: Esther Susabda, Ph.D.
Saya seorang wanita yang lahir dengan watak dan kemauan yang keras.Kami baru menikah satu tahun. Suami saya seringkali mengeluh bahwa saya terlalu agresif... Memang bisnis saya jauh lebih berhasil dari suami saya.Tapi terus terang saja saya tidak terlalu bahagia dengan kelebihan saya.Bahkan kadang-kadang saya kasihan merasakan suami saya yang seringkali minder dalam pertemuan dan jamuan makan malam yang diadakan oleh mitra bisnis saya.Padahal rasanya saya sudah selalu berusaha mengikutsertakan dia dalam setiap pembicaraan kami.Namun dia tidak bisa membuka atau melanjutkan pembicaraankecuali ditanya.

Ia seringkali mengatakan “tertekan” dengan kelebihan saya.Kadang-kadang terpikir apakah saya harus menyesali mengapa saya dilahirkan seperti ini?Atau apakah menjadi wanita yang agresif dan dominan memang tidak bisa menjadi istri yang baik?
Jawab:
Rasanya, anda sedang mempersalahkan diri, dilahirkan dengan kepribadian yang agresif dan dominan .Suatu kelebihan yang menyebabkan anda bangga karena berhasil dalam karier, tapi pada saat yang sama tidak anda sukai karena seolah-olah karena sebab itulah suami tertekan dan tidak bahagia.

Wanita modern sekarang ini memang seringkali terjebak di antara dua kutub, karier dan urusan berumah tangga. Anda sadar bahwa karier membutuhkan seluruh kemampuan, agresivitas dan inovasi untuk maju.Begitu pula, seiring dengan berkembangnya ekonomi di era ini, terbukalah banyak kesempatan bagi wanita untuk meningkatkan kemampuan.Sehingga tolok ukur sukses dalam pekerjaan bukan lagi ditentukan oleh perbedaan kelamin pria dan wanita namun berdasarkan kemampuan pribadi.Hal inilah yang menciptakan dilema dalam hidup anda. Dengan kemajuan anda, tanpa sadar suami sudah tergeser perannya.Ia merasa canggung karena anda menempatkan suami di tempat yang ia sendiri tidak merasa comfortable atau pas yaitu di depan mitra bisnis anda.Ia merasa sebagai kepala rumah tangga yang belum layak dihormati, karena belum berhasil dalam karier.Sehingga keinginan anda supaya suami mendapatkan tempat khusus dalam perannya justru membuat suami anda merasa terpojok.

 

Saya percaya bahwa Tuhan tidak menempatkan anda dalam sebuah dilema tanpa alternatif yang lain.Apalagi jika kedua pilihan tersebut memang merupakan tanggung jawab yang tidak bisa dihindari.Satu hal yang harus dipertanyakan adalah bagaimana dan mengapa kepribadian agresif dan dominan tersebut sudah dimanifestasikan sampai menghasilkan dampak yang negatif dalam diri suami?Apakah spiritnya negatif? atau mungkin motivasinya yang negatif atau mungkin caranya?

 

Setiap orang dilahirkan dengan keunikan kepribadian tertentu, namun jangan sampai kepribadian tersebut menjadi alat atau sarana melampiaskan keinginan sendiri tanpa memikirkan dampak pada pasangan.Saya melihat kesadaran anda tentang penyebab “rasa tertekan suami” sebagai sesuatu yang sangat positif.Jelas bahwa anda cukup peka dan ingin suatu perbaikan sebelum hubungan dengan suami menjadi parah.Meskipun demikian, anda membutuhkan langkah ke dua yaitu keberanian untuk menerima perbedaan dengan segala dampaknya.Karena memang “hal menerima perbedaan” merupakan salah satu bagian terpenting dari suatu pernikahan.Seperti yang diungkapkan oleh Gottman1:

 

“A lasting marriage result from a couple’s ability toresolve the conflicts that are inevitable in any relationship.Many couples tend to equate a low level of conflict with happiness and believe the claim “we never fight” is a sign of marital health.But I believe we grow in our relationships by reconciling our differences.That’s how we become more loving people and truly experience the fruits of marriage.1

“Pernikahan yang langgeng merupakan hasil dari kemampuan pasangan untuk mengatasi konflik yang memang tidak bisa dihindari dalam setiap hubungan antar manusia.Banyak pasangan yang cenderung berpikir dan percaya bahwa pernikahan yang sehat adalah yang “tidak pernah bertengkar.”Tetapi saya percaya bahwa hubungan antar suami-istri justru tumbuh melalui penyelerasan perbedaan-perbedaan yang ada.Karena hanya dengan keberanian menerima perbedaan inilah kita menjadi seseorang yang lebih mengasihi dan dapat menikmati buah-buah dari pernikahan kita.”

 

Jadi, anda jangan kecil hati.Mulailah dengan memberi tempat yang khusus kepada suami, menerima perbedaan yang ada, dan hilangkan spirit berkompetisi yang mungkin anda tidak sadari.Katakan kepada suami tentang kerinduan anda untuk berubah, sehingga dia pun bisa membantu dan memberikan masukan yang anda perlukan.

Berikan kesempatan baginya untuk berkarya dan berhasil.Saya harap anda tidak menuntut perubahan yang drastis. Tapi sikap anda yang telah memberikan tempat khusus di hati pasti akan dirasakan suami, dan menjadi pendorong baginya untuk terus mencoba.Memang tidak mudah untuk memulai sesuatu yang baru, tetapi ingat bahwa dengan memahami saja akan apa yang sedang terjadi tidak akan mengubah keadaan.Bahkan mungkin sikap yang “cuma memahami” saja, akan... menciptakan suatu bentuk kehidupan yang mati, rutin, dan tidak memiliki dinamika kehidupan lagi...2

 

Saya yakin dengan ketulusan hati dan kehangatan cinta kasih, anda sudah menciptakan permulaan yang baik bagi suami untuk melangkah maju.Pengalaman-pengalaman dalam spirit yang baru ini akan membuahkan realistic attachment (keterikatan batin yang lebih riil) yang anda dambakan.

Nah, jikalau anda dapat melewati masa krisis ini anda akan memasuki kehidupan pernikahan dengan keintiman hubungan suami-istri yang tumbuh lebih mendalam.Inilah tugas yang anda harus kerjakan.

Memang dalam Tuhan tidak ada resep yang mudah.Tetapi ... dalam persekutuan dengan Tuhan, segala usaha anda tidak akan sia-sia (I Kor 15:58).Tuhan memberkati. -

Kepustakaan:

Gottman, J. & Silver, N. (1994), Why Marriage Succeed or Fail, New York: Simon & Schuster, p.28.

Sell, C. M. (1981). Family Ministry. Grand Rapids, Michigan: Zondervan. p. 136.

Daftar Konselor

Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
Esther Susabda, Ph.D.
Asriningrum Utami, M.Th.
Lanny Pranata, M.Th.
Siska Tampenawas, M.Th.
Lucia Indrakusuma, M.A.
Esther Gunawan, M.Th.
Esther Kurniawati, M.Th.
Vivi Handoyo, M.Th.
Debby M. Soeseno, M.Th.
Suherni Santoso, M.A.
Yohanna P. Siahaan, M.Th.
Yonathan A. Goei, Ph.D.
Sandra Mayawati, M.Th.
Suzanna Sibuea, M.Th.
Dan lain-lain.

Konseling Online

Jadwal Konseling Online
Senin-Jumat
(Kecuali Hari Libur)
10.30-12.00 WIB dan 20.00-22.00 WIB

Tentang Kami

Kontak Info

STT Reformed Indonesia (STTRI, dulu STTRII)
Jl. Kemang Utara IX/10, Warung Buncit
Jakarta Selatan, 12760
(Peta lokasi bisa dilihat/diunduh di sini.)

Telp            : (021) 7982819, 7990357
Fax            : (021) 7987437
Email          : reformed@idola.net.id
Website      : www.reformedindonesia.ac.id
    www.konselingkristen.org
Bank          : CIMB Niaga (Cabang Kemang)
No. Acc.     : 800073329000 (Rp.)
                      253.02.00081.001 (USD)
A/n              : Yayasan Lembaga Reformed Indonesia