Jumlah Pengunjung

898814
Today
Yesterday
This Month
336
776
17528


Dalam bukunya,  What Wives Wish Their Husbands Knew About Women,  psikolog Kristen Dr. James Dobson memaparkan hasil angket  “Sumber Depresi di antara Wanita”  yang diberikannya kepada 75 wanita Kristen. Ternyata para wanita ini menunjuk pada “Penilaian Diri Yang Buruk” sebagai sumber depresi nomor satu. Data lain yang menuntut perhatian kita adalah bahwa mayoritas peserta angket ini adalah para ibu rumah-tangga berusia antara 27 hingga 40 tahun yang mempunyai anak kecil.

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca suatu hasil penelitian tentang depresi yang memberikan dukungan terhadap hasil penemuan Dr. Dobson ini. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa wanita memang lebih rawan terhadap depresi, dan kelompok yang paling rawan terhadap depresi adalah para ibu muda usia yang masih tinggal di rumah (tidak bekerja di luar).

Dr. Dobson mencoba melukiskan pengalaman para ibu muda usia yang memiliki penilaian diri yang buruk ini dan saya percaya sebagian pembaca dapat mengerti perasaan yang timbul dari pengalaman di bawah ini :
*…duduk sendirian di rumah pada siang hari yang sunyi itu, bertanya-tanya mengapa telepon tidak bordering ?
*…bertanya-tanya mengapakah Anda tidak mempunyai sahabat sejati ?
*…mendambakan kehadiran seseorang yang dapat Anda ajak bicara, hati ke hati, namun menyadari bahwa tidak ada yang dapat Anda percayai.
*…merasa tidak menarik dan tidak seksi.
*…merasa bahwa Anda telah gagal sebagai seorang istri dan ibu.
*…merasa tidak dikasihi dan tidak layak untuk dikasihi, kesepian, dan sedih.
*…terbaring di ranjang setelah semua anggota keluarga telah tidur, merasakan kehampaan yang dalam dan mendambakan kasih yang tidak bersyarat.
*…mengasihani diri.
*…dalam kegelapan malam menghapus air-mata yang menetes keluar dari pelupuk mata Anda.

Dr. Dobson mengetengahkan tiga penyebab penilaian diri yang buruk ini dan saya hanya memilih satu untuk pembahasan ini.  Pada masa ini para wanita tidak lagi dapat merasa bangga dengan karier mereka sebagai ibu rumah-tangga. Dr.Dobson berpendapat, sekarang ini penghargaan atau respek lebih banyak diberikan kepada mereka yang menduduki karier tertentu. Masyarakat modern tidak begitu menghargai panggilan ibu rumah-tangga. Menjadi ibu rumah-tangga bukan lagi karier idaman tatkala begitu banyak wanita yang berkarier diluar rumah.

Di tempat pekerjaan, kita terbiasa menerima dorongan dan  penghargaan, baik dari atasan maupun sesama rekan tatkala kita berhasil melakukan tugas kita dengan baik. Namun sekarang di rumah,  siapakah yang memberikan pujian tatkala kita merasa telah melakukan tugas kita dengan penuh tanggung-jawab ? Siapakah yang memberi kita dorongan tatkala kita merasa letih dan putus-asa ? Bukankah di rumah segala sesuatu  “memang sudah seharusnya kita lakukan”. Kurangnya tanggapan yang menghargai dan mendorong kita, terasa bagaikan melempar batu ke tengah kolam – ‘plung’, dan tidak timbul lagi, lenyap tenggelam !

Tugas menjadi ibu rumah-tangga juga dapat melahirkan rasa terasing dari ‘kehidupan yang sebenarnya’.  Kita merasa terkucil dari lingkungan kita dimana kita sebelumnya berkecimpung. Kontak-kontak sosial yang biasa kita nikmati dalam karier kita seperti sapaan, senyuman, ngobrol, ngumpul, tiba-tiba menghilang dari kehidupan kita.
Melakukan suatu tugas yang tidak dapat kita banggakan, yang itu-itu juga dan dengan rasa terpaksa memang dapat membuat penilaian terhadap diri kita negatif. Jika diantara pembaca ada yang merasa bahwa ulasan ini sesuai dengan keadaan Anda, saya ingin memberi beberapa usulan (mudah-mudahan penyelesaian pula !).

Pertama, yakinlah bahwa panggilan menjadi ibu rumah-tangga adalah panggilan yang “tiada taranya”.  Melalui panggilan ini, Tuhan member kesempatan kepada kita untuk bersama-sama denganNya membentuk pribadi-pribadi yang sesuai dengan kehendakNya.  Seorang pengendara mobil dapat merasa bangga mengendarai mobil yang bagus, namun yang paling berbahagia adalah ia yang menciptakan atau yang merancang mobil tersebut.  Para ibu muda usia, pekerjaan Anda adalah merancang dan mencetak pribadi-pribadi yang suatu hari kelak menjadi dewasa dan dapat mempengaruhi lingkungan di sekitar mereka, baik secara positif maupun secara negatif.  Pekerjaan Anda memang ibarat investasi jangka panjang yang seolah-olah tidak pernah “jatuh tempo”.  Namun, ingatlah tatkala satu hari telah berakhir dan malam telah tiba, Anda telah menabung dan menyenangkan Tuhan kita, yang telah mempercayakan tugas mulia kepada Anda.

Kepada para suami, tolonglah menjadi “pemantul” terhadap istri – member tanggapan, dorongan, pujian, dan interaksi. Semakin modern keadaan masyarakat kita, semakin sepi berdiam di rumah, karena semakin menipis ikatan sosial dengan sanak-saudara dan kerabat. Penghargaan kita kepada istri niscaya memberi mereka api harapan dan kemenangan kembali.

Daftar Konselor

Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
Esther Susabda, Ph.D.
Asriningrum Utami, M.Th.
Lanny Pranata, M.Th.
Siska Tampenawas, M.Th.
Lucia Indrakusuma, M.A.
Esther Gunawan, M.Th.
Esther Kurniawati, M.Th.
Vivi Handoyo, M.Th.
Debby M. Soeseno, M.Th.
Suherni Santoso, M.A.
Yohanna P. Siahaan, M.Th.
Yonathan A. Goei, Ph.D.
Sandra Mayawati, M.Th.
Suzanna Sibuea, M.Th.
Dan lain-lain.

Konseling Online

Jadwal Konseling Online
Senin-Jumat
(Kecuali Hari Libur)
10.30-12.00 WIB dan 20.00-22.00 WIB

Tentang Kami

Kontak Info

STT Reformed Indonesia (STTRI, dulu STTRII)
Jl. Kemang Utara IX/10, Warung Buncit
Jakarta Selatan, 12760
(Peta lokasi bisa dilihat/diunduh di sini.)

Telp            : (021) 7982819, 7990357
Fax            : (021) 7987437
Email          : reformed@idola.net.id
Website      : www.reformedindonesia.ac.id
    www.konselingkristen.org
Bank          : CIMB Niaga (Cabang Kemang)
No. Acc.     : 800073329000 (Rp.)
                      253.02.00081.001 (USD)
A/n              : Yayasan Lembaga Reformed Indonesia