Jumlah Pengunjung

2608393
Today
Yesterday
This Month
859
1464
34992


Oleh: Esther Susabda, Ph.D.

Bu, terus terang saja saat ini saya tidak tahu persis yang harus saya katakan. Saya bingung, takut, sedih, merasa sangat bersalah, campur aduk.

Saya anak pertama dari 3 bersaudara. Ayah sangat ingin saya menggantikannya dan meneruskan pekerjaan di toko kelontongnya yang cukup laku.
Saya tidak mau, bahkan tidak menyukai pekerjaan seperti itu. Kami sering bertengkar, dan untuk menghindarinya saya jarang di rumah, kebanyakan ke gereja atau main dengan teman. Hubungan saya dengan ayah memang tidak dekat.

Bu, tiba-tiba ayah saya meninggal, katanya sih serangan jantung, tetapi saya kira dia meninggal karena saya.
Malam itu saya diminta jaga toko, saya tidak mau. Memang dia diam saja, rupanya asyik baca koran dan saya langsung pergi karena sudah ada janji dengan teman. Tahu-tahunya malam itu saya dicari kemana-mana karena ayah masuk rumah sakit. Jam. 22.00 saya baru kembali dan ayah sudah tidak ada.

Bu, saya anak durhaka,
ayah meninggal karena saya. Ibu dan adik-adik semua marah kepada saya. Saya tidak tahu bu, saya mesti bagaimana sekarang?

Jawab:
Saya bisa memahami perasaan campur aduk, khususnya rasa bersalah yang Anda alami karena suara hati-nurani yang terus menerus menuduh Anda. Meskipun secara rasionil Anda bisa mengemukakan berbagai alasan, pihak lain Anda tahu ada banyak kebaikan yang sebetulnya dapat Anda lakukan untuk menyenangkan hati ayah. Sebagian besar keinginan ayah sebenarnya dapat Anda penuhi, tetapi Anda berkeras-hati dan selalu tidak memenuhinya. Itulah sebabnya Anda sekarang merasa sangat bersalah. Apalagi orang yang kepadanya Anda bersalah, tak dapat dihidupkan lagi. Kemungkinan Anda untuk bersujud dan meminta maaf seolah-olah sudah tertutup selamanya. Bahkan Anda merasa ikut andil dalam kematian ayah.

Meskipun demikian, saya harap Anda berhati-hati dengan sikap Anda terhadap diri sendiri. Perasaan Anda di tengah kondisi yang seperti ini harus diwaspadai karena Anda berada di persimpangan jalan. Anda bisa berduka-cita dengan "godly sorrow”/dukacita surgawi sehingga menghasilkan pertobatan (II Kor 7:10) atau Anda bisa berduka dengan duka-cita orang yang tak berpengharapan (I Tes 4:13). Duka-cita yang kedua ini hanyalah manifestasi self-blaming/menyalahkan diri seperti yang dikatakan John Donne bahwa, ". . . any man's death diminishes me, because I am involved in mankind" (setiap kematian menekan saya, karena saya terlibat dalam kehidupan manusia).

Pada akhirnya dengan duka-cita yang keliru ini Anda akan tenggelam dalam kesedihan dan menghukum diri sendiri. Semoga Anda  tidak melakukan hal ini, karena Anda bisa membuka diri untuk gejala lain yang lebih buruk yang Freud sebut pathological2/tidak sehat lagi. Yang terpenting bagi Anda sekarang ini adalah membuktikan diri bahwa Anda mencintai ibu dan adik-adik. Kekuatiran dan kebingungan Anda memang wajar karena Anda masih bingung, peran apa yang akan Anda ambil sekarang ini. Anda belum biasa memikul tanggung-jawab seorang dewasa oleh sebab itu mulailah dengan langkah-langkah pertama yang kongkrit dulu yaitu mengisi peran ayah dan mengupayakan supaya toko kelontong yang ayah banggakan itu tidak hancur. Olin & Olin mengatakan dengan tepat bahwa, "the transition from having little awareness and then acceptance of owning up to the responsibility of directing one's life is a gradual process.  Bereavement can enhance this process" (duka-cita yang sehat seharusnya menghasilkan proses kehidupan yang baik yaitu transisi dari kurangnya kesadaran sampai kemudian bisa menerima serta memiliki tanggung-jawab dalam kehidupan).

Anda belum terlambat, dan jangan menolak kesempatan yang Tuhan berikan pada Anda untuk menunjukkan tanggung-jawab pada seluruh keluarga. Kiranya Tuhan menolong dan menguatkan Anda pada masa-masa yang sulit ini.

Daftar Konselor

Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
Esther Susabda, Ph.D.
Dr. Ir. Asriningrum Utami
Lanny Pranata, M.Th.
Siska Tampenawas, M.Th.
Lucia Indrakusuma, M.A.
Esther Gunawan, M.Th.
Esther Kurniawati, M.Th.
Vivi Handoyo, M.Th.
Debby M. Soeseno, M.Th.
Suherni Santoso, M.A.
Yohanna P. Siahaan, M.Th.
Yonathan A. Goei, Ph.D.
Sandra Mayawati, M.Th.
Suzanna Sibuea, M.Th.
Dan lain-lain.

Konseling Online

Jadwal Konseling Online
Senin-Jumat
(Kecuali Hari Libur)
10.30-12.00 WIB dan 20.00-22.00 WIB

Tentang Kami

Kontak Info

STT Reformed Indonesia (STTRI, dulu STTRII)
Jl. Kemang Utara IX/10, Warung Buncit
Jakarta Selatan, 12760
(Peta lokasi bisa dilihat/diunduh di sini.)

Telp            : (021) 7982819, 7990357
Fax            : (021) 7987437
Email          : reformed@idola.net.id
Website      : www.reformedindonesia.ac.id
    www.konselingkristen.org
Bank          : CIMB Niaga (Cabang Kemang)
No. Acc.     : 800073329000 (Rp.)
                      253.02.00081.001 (USD)
A/n              : Yayasan Lembaga Reformed Indonesia